Surat dari Bapak Taryudi



            Aku terbangun dari kursi setelah mendengar bel rumah berbunyi empat kali. Dan benar, ada tukang pos yang sudah menunggu di depan pintu.
            “Maaf, Pak. Apakah alamat ini benar rumah ini?”
            “Iya benar. Surat untuk siapa, ya?”
            “Di sini tertera untuk Anas Prasetya. Beliau ada, Pak?”
            “Dengan saya sendiri”
Lalu diberikan sepucuk surat yang kemudian disusul dengan permintaan tanda tangan dari tukang pos. Pada surat tetera nama Taryudi sebagai pengirim dengan alamatnya. “Oh, Bapak Taryudi dari Ujung Negoro” kenangku. Kemudian aku berjalan menuju kursi sembari mengingat-ingat tentang Pak Taryudi.

            Adalah Taryudi, petani asal desa Ujung Negoro, Kabupaten Batang. Beliau adalah orang yang berjasa dalam penelitian kuliahku. Waktu itu aku masih mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Surakarta. Aku memutuskan melakukan penelitian di Ujung Negoro dikarenakan di desa tersebut sedang ramai isu tentang alih fungsi lahan pertanian menjadi lokasi pabrik pembangkit listrik. Sebagai mahasiswa pertanian, aku memang diharuskan mencari isu yang ada keterkaitan dengan dunia pertanian.

            Saat itu adalah hari Jumat pagi di depan rumah sederhana berdinding batu bata yang belum terlapisi dinding semen. Sengaja aku memilih hari Jumat karena hari itulah kebanyakan petani beristirahat di rumah―bisa dikatakan hari liburnya petani.
            “Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam, sinten nggih?”
“Kula Anas, Pak. Dari Fakultas Pertaian. Bisa minta waktu njenengan sebentar?
“Nggih saged, Mas. Pripun?”
“Sebelumnya, boleh saya tahu nama bapak siapa dan pekerjaan Bapak apa mboten, Pak?”
“Kulo Taryudi, Mas. Mung petani kulo iki.”
“Oh, nggih, Pak. Kebetulan Bapak petani. Ini, Pak. Saya ada tugas dari kampus untuk mengadakan penelitian tentang petani di desa Ujung Negoro. Nanti mohon bantuan dari Bapak untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sudah saya siapkan. Apakah Bapak berkenan?”
“Nggih saged. Sebisone kulo nggih.”
Setelah Bapak Taryudi bersedia ditanyai, Aku mulai menanyakan pertanyaan satu demi satu. Memang pertanyaan yang kubuat saling berkorelasi. Jadi, jawaban satu akan bersambung dengan jawaban lain.

            Setelah hampir 30 menit berdialog, jawaban Pak Taryudi dapat aku simpulkan begini―mungkin ada sedikit perbedaan dikarenakan Pak Taryudi menjawab dalam Bahasa jawa, sedang aku tidak terlalu fasih dalam berbahasa jawa.

            Saya jadi petani bisa dibilang sudah dari kecil, Mas. Orang tua saya soalnya dulu juga petani. Lahan yang saya punya saat ini juga cuma warisan dari orang tua. Kalau ditanya ada berapa hektar, saya tidak tahu, Mas. Pokoknya 8 petak yang saya punya dan saya garap. Dari 8 petak itu bisa menghasilkan padi sebanyak 52 kwintal dalam sekali panen. Biasanya saya bisa memanen dua kali dalam setahun. Dari hasil yang segitu, Alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga. Kebutuhan istri dan anak bisa terpenuhi. Untuk masalah PLTU sebenarnya saya bingung, Mas. Lah saya kan petani, kalo sawah saya gadaikan, mau hidup dari mana keluarga saya. Memang kalau kata orang-orang yang sering datang ke rumah saya, uang ganti ruginya banyak. Bisa untuk beli tanah yang luas, bisa untuk mbangun rumah gedong, atau bisa juga untuk beli motor bahkan mobil. Aduh, Mas, petani seperti saya ini tidak butuh barang-barang seperti itu. Asal untuk makan cukup, bisa menyekolahkan anak, syukur-sykur bisa sampai sarjana seperti Masnya, saya sudah bisa senyum di sisa hidup saya ini, mas. Sampai sekarang petani yang lain hampir semuanya sudah menyerahkan tanahnya. Mereka bilang asal uang ganti ruginya besar, tidak masalah mereka tidak bisa menanam padi lagi. Mereka masih bisa jual sembako di rumah, jadi kuli bangunan, jadi buruh, dan pekerjaan kasar lain. Tidak taulah nanti saya. Kalau yang lain menyerahkan lahannya semua, ya, terpaksa saya juga menyerahkan lahan saya.

            Yah, begitulah Bapak Taryudi. Sesosok petani yang menurutku menarik. Dia bisa dibilang petani yang sukses. Bagaimana dia memandang hidup bukan hanya perkara berapa kali ia panen, berapa kwintal gabah yang ia bisa jual. Hanya dengan kata “Yang penting cukup, Mas” ia bisa menjadi cerminan petani di Indonesia. Memang begitulah nasib petani di Indonesia. Di saat mereka memiliki lahan yang luas, hasil panen yang melimpah, namun kesejahteraan mereka masih begitu-begitu saja. Yang mereka tahu adalah masuk musim penghujan harus mulai menanam, saat padi mereka diserang hama mereka harus membeli pestisida, saat  sawahnya kekurangan air mereka harus menyewa pompa air, dan hal-hal lain yang harus dipenuhi sampai padi mereka masuk masa panen. Mereka tidak mengharuskan keuntungan yang melimpah. Hanya dengan tidak merugi dan cukup untuk menghidupi keluarga saja sudah dirasa sebagai keberkahan. Dalam kasus alih fungsi lahan ini, tidak heran jika banyak petani yang menyerahkan lahannya untuk dibangun pabrik pembangkit listrik. Selain proyek ini adalah memang proyek pemerintah, mereka berpandangan bahwa menjadi petani, hidup mereka hanya akan seperti ini-ini saja. Mereka berdalih, selagi harga ganti rugi tanah masih tinggi, setidaknya nasib mereka akan lebih baik ketimbang menjadi petani.

            Aku sudah sampai di kursi yang sudah aku tinggal sekitar 10 menit. Aku duduk dan mulai membuka surat dari Pak Taryudi. Isinya kurang lebih seperti ini:

            Assalamualaikum, Mas Anas. Ini saya Taryudi, petani dari Ujung Negoro. Saya dengar Mas anas diangkat menjadi manajer di perusahaan yang Mas Anas geluti selama ini. Selamat ya, Mas. Oh iya, Mas, saya juga mau mengucapkan banyak terimakasih. Berkat anjuran mas Anas 10 tahun yang lalu, anak terakhir saya sekarang bisa kuliah. Ini, Mas, saya jadinya melepas sawah saya untuk dibangun PLTU. Namun seperti anjuran Mas Anas, uang hasil ganti rugi yang saya peroleh, saya gunakan untuk membeli sawah di desa sebelah, di desa Kandeman. Memang agak jauh, tapi disana saya bisa menanam tiga kali dalam setahun. Jadi dalam setiap panen saya bisa menabung untuk menyekolahkan anak dan juga untuk memperbaiki rumah saya. Yah, rumah saya bisa dibilang masih belum sebagus rumah tetangga yang lain. Tapi, Alhamdulillah, saya sekarang sudah bisa memperkerjakan tetangga-tetangga saya yang dulunya petani yang sudah kehilangan lahannya. Sawah saya juga sekarang sudah bertambah menjadi 20 petak, Mas. Oiya Mas, kalau Mas Anas berkenan, saya sangat berharap Mas Anas sudi untuk berkunjung ke Ujung Negoro, ke rumah saya. Kantor Mas kan sekarang di Pekalongan, dekat kalau ke Batang. Saya akan mempersiapkan yang terbaik sebagai ucapan terima kasih saya ke Mas Anas. Semoga Mas Anas selalu sehat dan selalu dilindungi Allah SWT. Amin. Wassalamualaikum Wr. Wb.

            Aku tersenyum ketika menutup surat tersebut. Aku teringat saranku kepada Pak Taryudi “Pak, kalau semisal Bapak terpaksa melepas lahan bapak, uang hasil ganti ruginya jangan untuk membeli motor, rumah, emas, atau barang sejenisnya, Pak. Takut sia-sia nantinya. Saran saya, Bapak beli sawah yang sistem pengairannya lebih baik. Bapak olah, telateni. Petani juga punya kesempatan untuk berhasil, Pak. Percayalah.”

Terima kasih sudah mengirimkan surat penuh inspirasi ini, Pak. Aku bangga sekaligus malu. Bagaimana mungkin Bapak yang hampir kehilangan lahan masih bertahan menjadi seorang petani, yang hanya karena mendengar saran dari pegawai perusahaan keuangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Untuk Bapak