Postingan

Puisi Untuk Bapak

Aku ingin menulis sebuah puisi untuk bapak Bapak adalah seseorang yang aku kagumi Bapak menjadi laki-laki paling kuat yang aku kenal Bapak berangkat kerja pagi sekali lalu pulang pada sore hari Bapak sering membawakan gorengan dan kue yang enak saat pulang Bapak terkadang juga membawakan mobil-mobilan untukku Bapak tidak pernah mengeluh Bapak selalu terlihat semangat saat beraktivitas Bapak selalu memberi aku motivasi untuk terus belajar Bapak selalu tersenyum saat aku tanya apakah bapak bisa lelah atau tidak Tapi aku pernah lihat bapak menangis Bapak menangis saat ibu sedang tidur Bapak bersimpuh menghadap sajadah dan kedua tangannya diangkat Itu adalah pertama kali aku melihat bapak menangis Walaupun bapak pernah menangis aku tetap menganggap bapak adalah laki-laki paling kuat Aku ingin menjadi laki-laki seperti bapak Aku sayang bapak

Surat Penghujung Perpisahan

             Perkenalan kami memang singkat. Kami bertemu di suatu ruangan rapat organisasi. Sesosok perempuan cantik dan sederhana. Gadis yang menyukai warna biru dan tidak suka melihat keadaan lingkungan kotor. Anaknya cerdas dan aktif. Dia juga dikenal dari kebaikannya. Begitulah sekiranya sedikit tentang dia. Aku sempat kaget ketika dia yang kupandangi dari tadi tiba-tiba mendekat dan duduk di sebelahku. "Perkenalkan, namaku Anna.  Kamu Anas ketua MPK, kan?" Aku sempat terdiam lalu tersenyum. Aku sendiri adalah ketua Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) di sekolahku. "Eh, iya, " "Oke. Nanti kamu yang mimpin sambutan dari perwakilan MPK, ya." "Boleh." Kemudian Anna pergi ke depan untuk membuka acara. Anna sendiri adalah ketua OSIS yang baru saja terpilih di sekolahku. Dari segi kualitas memang kuakui dia adalah perempuan yang luar biasa. Dua laki-laki yang menjadi lawannya hanya berhasil memperoleh suara seperempat dari suara ke...

Surat dari Bapak Taryudi

Gambar
            Aku terbangun dari kursi setelah mendengar bel rumah berbunyi empat kali. Dan benar, ada tukang pos yang sudah menunggu di depan pintu.             “Maaf, Pak. Apakah alamat ini benar rumah ini?”             “Iya benar. Surat untuk siapa, ya?”             “Di sini tertera untuk Anas Prasetya. Beliau ada, Pak?”             “Dengan saya sendiri” Lalu diberikan sepucuk surat yang kemudian disusul dengan permintaan tanda tangan dari tukang pos. Pada surat tetera nama Taryudi sebagai pengirim dengan alamatnya. “Oh, Bapak Taryudi dari Ujung Negoro” kenangku. Kemudian aku berjalan menuju kursi sembari mengingat-ingat tentang Pak Taryudi.         ...

Tiga Ungkapan Lelaki

Lisan dan Janji Bagaimana mungkin lisan memberi janji dengan bebasnya sedangkan telinga mendengar dengan tanpa cela Bagaimana mungkin lidah mengucap ikrar seenaknya sedangkan otak menyimpan dengan tanpa lupa Bagaimana mungkin? _____ Akulah Barista Secangkir kopi di ujung meja Dihirupnya pelan aroma bubuk kopi hitam pekat Aku masih tak bisa mengganggumu Kau butuh ketenangan, pangkasku Pandanganmu masih tak bergerak Tanganmu masih saja tak bisa kuraih Mulutku ingin berbicara namun enggan bersuara Lalu kita kembali terdiam Kopimu mulai mendingin Kau pun terlihat resah Perlahan kau julurkan tanganmu Kau menangis, aku terkikis Sendumu tak tertahankan Aku masih tak bisa berkutik Kau selalu meminta kopi saat hatimu terluka "Butiran kopi tak akan pernah menyakitiku" katamu Apakah kau tahu, Seberapa besar ketulusan yang tertuang dalam tiap tetes kopimu? Apakah kau tahu, Ada manusia yang lebih mengerti ketimbang aroma kopimu? ...